Hotspot — WiFi Tamu dengan Login Page
🎯 Setelah Modul Ini Kamu Akan Bisa
- Membuat jaringan WiFi tamu yang terisolasi penuh dari LAN & subnet manajemen
- Setup hotspot server dengan captive portal (halaman login) di RouterOS
- Membuat voucher/user tamu dengan batas waktu, bukan password permanen
- Memahami walled garden dan kenapa TIDAK boleh dipakai untuk buka akses manajemen
- Menjelaskan prinsip privasi & batas logging yang benar untuk WiFi publik
wlan1 bisa dipakai langsung.
1 · PengantarSkenario: Pasien Minta WiFi Sambil Menunggu
Klinik gigi yang sama. Sekarang firewall sudah terpasang (Modul 04). Pasien yang menunggu di ruang tunggu sering minta akses WiFi. Opsi paling malas: kasih password WiFi biasa yang sama terus-menerus ke semua orang — tapi itu berarti password gampang tersebar ke luar tanpa kontrol, dan device pasien yang asing bisa "nempel" di jaringan yang sama dengan laptop staff kalau tidak dipisah.
2 · KonsepIsolasi Jaringan Tamu — Prioritas Sebelum Apa Pun
Sebelum sentuh fitur hotspot sama sekali, keputusan desain paling penting:
WiFi tamu HARUS di interface/bridge dan subnet yang BEDA dari
LAN staff (bridge, subnet lab dari Modul 01-04) dan subnet
manajemen (10.10.10.0/24).
Fitur hotspot (captive portal, voucher) itu lapisan tambahan di atas isolasi jaringan — bukan pengganti isolasi itu sendiri. Modul ini akan membangun keduanya: bridge+subnet terpisah, DAN firewall rule eksplisit yang memblokir trafik tamu menuju LAN/manajemen (melanjutkan pola chain forward dari Modul 04).
3 · KonsepCaptive Portal & Cara Kerja Hotspot
Hotspot di RouterOS bekerja dengan meng-intercept request HTTP pertama dari device baru yang belum login, lalu me-redirect ke halaman login (captive portal) — device itu tidak diizinkan akses internet penuh sampai berhasil login.
Setelah login sukses, RouterOS "mengingat" device itu (biasanya lewat MAC address) sampai sesi berakhir — baik karena logout manual, timeout idle, atau voucher/limit-uptime habis.
4 · KonsepVoucher & User Manager
Daripada satu password WiFi yang sama untuk semua tamu (gampang bocor,
tidak bisa dikontrol), hotspot RouterOS pakai user/voucher individual
dengan limit-uptime (batas durasi pemakaian).
- Kontrol lebih baik: tiap voucher bisa dinonaktifkan sendiri-sendiri kalau disalahgunakan, tanpa mengganggu tamu lain.
- Otomatis expire:
limit-uptime=2hartinya voucher itu otomatis berhenti berfungsi setelah 2 jam pemakaian aktif — tidak perlu reset manual. - Tidak perlu identitas asli: voucher cukup pakai kode
(mis.
TAMU-DEMO-01), bukan nama asli atau nomor HP tamu — dibahas lebih lanjut di section 6.
5 · KonsepWalled Garden — Batasannya
Walled garden adalah daftar situs/tujuan yang bisa diakses tamu TANPA login dulu — contoh umum: halaman info klinik, atau portal pembayaran yang perlu diakses sebelum sesi hotspot resmi dimulai.
8291, ssh 22, atau subnet manajemen
10.10.10.0/24) ke walled garden. Walled garden bekerja
SEBELUM firewall rule biasa dievaluasi untuk tamu yang belum login —
kalau port manajemen dimasukkan situ, itu sama saja membuka celah ke
router untuk SEMUA tamu yang bahkan belum login sama sekali, merusak
seluruh isolasi yang dibangun di section 2 dan Modul 04.
Walled garden HANYA untuk mengizinkan akses ke situs/layanan eksternal tertentu sebelum login — bukan jalan pintas untuk melonggarkan keamanan jaringan internal.
6 · KonsepPrivasi & Batas Logging
Hotspot RouterOS secara default mencatat beberapa hal untuk keperluan operasional: waktu login/logout, MAC address device, IP yang dipakai, dan durasi sesi. Ini bukan berarti semua data itu boleh dikumpulkan atau disimpan tanpa batas.
Prinsip yang benar untuk WiFi publik/tamu
- Kumpulkan seperlunya saja — voucher/username cukup kode (mis. nomor urut), jangan minta nama asli atau nomor HP tamu kalau tidak benar-benar perlu secara operasional.
- Batasi retensi log — jangan disimpan selamanya "buat jaga-jaga". Tentukan periode wajar (mis. beberapa minggu) lalu hapus.
- Batasi siapa yang bisa akses log — cukup admin jaringan, bukan semua staff.
- Jangan pakai data hotspot untuk tujuan lain (misal marketing/profiling tamu) tanpa izin eksplisit — di luar tujuan operasional menyediakan akses internet.
7 · PraktikDemo Step-by-Step (CLI)
Asumsi: ether3 adalah port menuju access point (atau interface
ethernet tambahan di CHR untuk simulasi). Subnet tamu 192.168.77.0/24
— sengaja beda total dari subnet LAN (10.99.99.0/24) dan
manajemen (10.10.10.0/24).
Buat bridge terpisah untuk tamu
Bridge baru ini SENGAJA terpisah dari bridge (LAN staff)
yang sudah ada sejak Modul 01.
Assign subnet baru + DHCP untuk tamu
Lease pendek (1 jam) wajar untuk tamu — konsisten dengan prinsip yang dipelajari di Modul 02.
Setup hotspot server
Ini yang mengaktifkan captive portal — mulai sekarang, device baru
di bridge-guest akan di-redirect ke halaman login sebelum
dapat internet.
Buat voucher (data FIKTIF)
TAMU-DEMO-01 — kode voucher, bukan nama asli siapa pun.
limit-uptime=2h membuat voucher otomatis berhenti berfungsi
setelah 2 jam pemakaian aktif.
Isolasi: blokir tamu menuju LAN & manajemen
Uji: connect & captive portal muncul
Kalau langsung dapat internet TANPA diminta login, cek lagi status hotspot server (langkah 3) — mungkin belum aktif dengan benar.
Uji: login dengan voucher, uji isolasi
Kalau device tamu JUSTRU berhasil ping ke LAN/manajemen, rule isolasi (langkah 5) belum benar — perbaiki sebelum lanjut.
Backup & catat kebijakan retensi
Selain backup config, tuliskan juga (di catatan/laporan, bukan di router): berapa lama log hotspot akan disimpan, dan siapa yang punya akses melihatnya — bagian dari praktik privasi section 6.
8 · Lab TaskPraktik Wajib — Hardware Kantor Mitra atau CHR Mandiri
- Jalur Mandiri (CHR): lanjutkan CHR yang sama dari Modul 01-04, tambah 1 interface ethernet virtual untuk simulasi port tamu. Bukti kelulusan = screenshot tiap tahap, disimpan sendiri (tidak perlu verifikasi pembimbing).
- Jalur Formal (magang): pakai hardware MikroTik
yang sama dari Modul 01-04 di kantor mitra (pakai
wlan1kalau ada radio bawaan, atau port ethernet tambahan). Hasil dicatat di template Laporan PKL Bagian 4, dan diverifikasi langsung oleh pembimbing.
📋 8 Lab Tasks — Modul 05
- Buat bridge terpisah untuk jaringan tamu (BUKAN
bridge LAN yang sama dari Modul 01-04). Screenshot
/interface bridge print. - Assign subnet BARU (non-overlap dengan LAN &
manajemen) + DHCP server untuk subnet tamu. Screenshot
/ip dhcp-server print. - Setup hotspot server (profile + binding ke bridge
tamu). Screenshot
/ip hotspot print. - Buat 1 voucher/user hotspot FIKTIF dengan
limit-uptime. Screenshot/ip hotspot user print(nama voucher harus jelas kode/fiktif, bukan nama asli siapa pun). - Buat firewall rule isolasi — blokir trafik subnet
tamu menuju subnet LAN dan subnet manajemen. Screenshot
/ip firewall filter printmenunjukkan rule ini ditaruh di posisi yang benar (setelah established/related, sebelum drop-semua). - Uji captive portal: device baru di jaringan tamu di-redirect ke halaman login sebelum dapat internet. Screenshot bukti halaman login muncul.
- Uji login & isolasi: login pakai voucher berhasil dapat internet, TAPI ping ke gateway LAN & manajemen dari device tamu harus gagal. Screenshot kedua hasil (berhasil internet + gagal ping internal).
- Backup akhir + tuliskan 1-2 kalimat kebijakan retensi log hotspot (berapa lama disimpan, siapa yang akses) di catatan/laporan.
Selesai? Jalur Formal: tunjuk pembimbing untuk verifikasi — pembimbing akan cek captive portal muncul, voucher berfungsi, DAN device tamu benar-benar tidak bisa akses LAN/manajemen. Jalur Mandiri: cek sendiri — kalau semua 8 bukti lengkap dan konsisten (terutama bukti isolasi jalan), lab task ini selesai. Simpan buktinya untuk checklist di halaman progres.
9 · Self-AssessmentCek Pemahaman (5 Soal)
limit-uptime otomatis expire, dan tiap voucher bisa dimatikan sendiri-sendiri kalau disalahgunakan tanpa mengganggu tamu lain — kontrol jauh lebih baik, bukan soal kecepatan (a) atau tanpa password (c).10 · RangkumanKey Takeaways Modul 05
- Isolasi jaringan dulu, baru fitur hotspot — subnet tamu harus beda total dari LAN & manajemen.
- Captive portal me-redirect request HTTP pertama ke halaman login sebelum internet penuh diizinkan.
- Voucher + limit-uptime jauh lebih baik dari password WiFi permanen — kontrol individual & auto-expire.
- Walled garden cuma untuk akses situs eksternal sebelum login — TIDAK PERNAH untuk port/subnet manajemen.
- Captive portal bukan alasan melemahkan HTTPS — trafik pengguna setelah login berjalan normal apa adanya.
- Data minimal — voucher pakai kode, bukan identitas asli tamu; batasi retensi & akses log.
- Uji isolasi dua arah: internet berhasil (setelah login) DAN akses ke LAN/manajemen gagal — bukan cuma tes salah satu.
11 · GlossariumIstilah Penting di Modul Ini
- Hotspot
- Fitur RouterOS yang meng-intercept trafik device baru dan mewajibkan login (captive portal) sebelum internet penuh diizinkan.
- Captive Portal
- Halaman login yang muncul otomatis saat device baru mencoba browsing sebelum login ke hotspot.
- Voucher
- User/kredensial hotspot individual dengan batas waktu (limit-uptime), pengganti password WiFi permanen.
- Limit-Uptime
- Parameter yang membuat voucher otomatis berhenti berfungsi setelah durasi pemakaian aktif tertentu.
- Walled Garden
- Daftar tujuan yang bisa diakses tamu TANPA login dulu — hanya untuk situs eksternal, bukan port manajemen.
- Isolasi Jaringan
- Praktik memisahkan subnet/interface tamu dari LAN staff & manajemen supaya tidak saling terlihat/terjangkau.
- Minimalisasi Data
- Prinsip privasi: kumpulkan & simpan data seperlunya saja sesuai tujuan operasional, bukan sebanyak mungkin.
- Retensi Log
- Berapa lama data/log disimpan sebelum dihapus — harus dibatasi periode wajar, bukan disimpan selamanya.