Cek atau tekan Enter.Apa Itu Port Checker?
Port checker adalah tool untuk memeriksa apakah sebuah port TCP pada server atau IP address dapat diakses dari internet. Ketika Anda menjalankan web server, game server, atau layanan lainnya, port tertentu harus dalam status OPEN agar bisa diakses dari luar jaringan. Tool ini melakukan koneksi TCP dari server kami ke target Anda untuk memverifikasi apakah port terbuka dan merespons.
Cara Kerja Port Checker
Tool ini mencoba membuat koneksi TCP (handshake) ke IP dan port yang Anda tentukan. Jika koneksi berhasil dalam batas waktu tertentu, port dianggap OPEN — artinya ada layanan yang aktif mendengarkan. Jika koneksi ditolak atau timeout, port dianggap CLOSED/FILTERED.
- OPEN: Koneksi TCP berhasil — ada layanan aktif di port tersebut dan firewall mengizinkan akses.
- CLOSED: Port aktif menolak koneksi (TCP RST) — tidak ada layanan yang mendengarkan.
- FILTERED: Tidak ada respons sama sekali (timeout) — biasanya diblokir oleh firewall atau ISP.
Daftar Port Penting dan Fungsinya
Berikut port-port yang paling sering digunakan:
- Port 21 (FTP): Transfer file via File Transfer Protocol. Sering diblokir ISP karena alasan keamanan.
- Port 22 (SSH): Secure Shell — remote access ke server Linux. Wajib dibuka untuk administrasi server.
- Port 25 (SMTP): Kirim email. Banyak ISP memblokir port ini untuk mencegah spam.
- Port 53 (DNS): Query DNS. Digunakan jika Anda menjalankan DNS server sendiri.
- Port 80 (HTTP): Web server tanpa enkripsi. Harus terbuka untuk website.
- Port 443 (HTTPS): Web server dengan SSL/TLS. Wajib untuk website modern dengan sertifikat SSL.
- Port 3306 (MySQL): Database MySQL/MariaDB. Sebaiknya TIDAK terbuka ke publik — gunakan SSH tunnel.
- Port 3389 (RDP): Remote Desktop Windows. Risiko keamanan tinggi jika terbuka tanpa VPN.
- Port 5432 (PostgreSQL): Database PostgreSQL. Sama seperti MySQL, sebaiknya tidak terbuka ke publik.
- Port 8080/8443: Alternatif HTTP/HTTPS — sering digunakan untuk development server atau reverse proxy.
Kenapa Port Selalu CLOSED?
Jika Anda sudah membuka port di server tapi tool ini masih menunjukkan CLOSED, berikut kemungkinan penyebabnya:
- Firewall OS masih aktif: Di Linux, cek
iptables -Latauufw status. Di Windows, cek Windows Defender Firewall. - ISP memblokir port: Beberapa ISP (terutama paket rumahan) memblokir port tertentu seperti 25, 80, 443. Hubungi ISP untuk membuka port.
- ISP menggunakan CGNAT: Jika ISP Anda menggunakan Carrier-Grade NAT, IP publik Anda dibagi dengan pengguna lain dan port forwarding tidak akan bekerja. Cek dengan membandingkan IP di router dengan IP publik Anda.
- Cloud provider firewall: AWS Security Group, GCP Firewall Rules, atau DigitalOcean Firewall mungkin belum dikonfigurasi.
- Layanan tidak berjalan: Pastikan service sudah running — cek dengan
netstat -tlnp(Linux) ataunetstat -an(Windows).
Port Checker untuk Keamanan Server
Melakukan port scan secara rutin pada server Anda sendiri adalah praktik keamanan yang baik. Port yang terbuka tanpa alasan bisa menjadi celah keamanan. Beberapa tips keamanan terkait port:
- Tutup semua port yang tidak diperlukan — prinsip least privilege.
- Jangan buka port database (3306, 5432, 6379) ke publik — gunakan SSH tunnel atau VPN.
- Ganti port default SSH (22) ke port non-standar untuk mengurangi brute force.
- Gunakan fail2ban atau rate limiting untuk port yang harus terbuka.
- Kombinasikan dengan ping test dan traceroute untuk diagnosa konektivitas lengkap.
Cek Port dari Command Line
Anda juga bisa mengecek port dari terminal:
- Linux/Mac:
nc -zv google.com 443atautelnet google.com 80 - Windows:
Test-NetConnection google.com -Port 443(PowerShell) - Cek port lokal:
netstat -tlnp | grep :80(Linux) untuk melihat service yang mendengarkan