NAT & Routing — Internet Sharing untuk LAN
🎯 Setelah Modul Ini Kamu Akan Bisa
- Menjelaskan kenapa IP privat di LAN tidak bisa langsung akses internet tanpa NAT
- Setup interface WAN sebagai DHCP client untuk dapat IP dari ISP
- Membaca routing table & memahami peran default route
- Membuat NAT rule masquerade supaya seluruh LAN bisa internet sharing lewat satu WAN
- Memverifikasi NAT benar-benar aktif lewat counter, bukan cuma asumsi
1 · PengantarSkenario: LAN Sudah Rapi, Tapi Belum Internetan
Klinik gigi yang sama. Setelah Modul 01 (setup awal) dan Modul 02 (DHCP), laptop staff, WiFi tamu, printer, dan CCTV sudah otomatis dapat IP dari router. Tapi kalau kamu coba buka browser di salah satu laptop — tidak ada internet sama sekali, padahal IP-nya sudah benar.
192.168.x.x) tidak
dikenali di internet publik. Dua masalah terpisah yang keduanya harus
diselesaikan di modul ini: routing ke ISP dan NAT.
Sampai modul sebelumnya kita cuma sentuh interface bridge
(LAN). Sekarang kita pakai interface KEDUA — ether1 — sebagai
WAN, koneksi router ke modem/ISP.
2 · KonsepWAN & DHCP Client
Di Modul 02, MikroTik jadi DHCP server — membagikan IP ke LAN. Di sisi WAN, perannya terbalik: MikroTik jadi DHCP client — meminta IP ke modem/ISP, persis seperti laptop kamu meminta IP ke router di rumah.
/ip dhcp-server lagi untuk WAN.
Salah arah! WAN = router MINTA IP (client), LAN = router MEMBERI IP (server).
Dua command yang beda: /ip dhcp-client vs /ip dhcp-server.
Kebanyakan ISP rumahan/kantor kecil di Indonesia kasih IP dynamic (berubah sewaktu-waktu) — makanya DHCP client adalah cara paling umum setup WAN. Kalau berlangganan IP publik statis (leased line, biasanya lebih mahal), interface WAN di-set manual pakai IP tetap dari ISP, bukan DHCP client.
3 · KonsepRouting & Default Route
Routing table adalah "peta jalan" router — daftar aturan ke mana paket data harus diteruskan tergantung tujuannya. Setiap kali router terima paket, dia cek tabel ini untuk memutuskan lewat interface mana paket itu harus keluar.
Default Route (0.0.0.0/0)
Route khusus yang artinya: "kalau tujuan paket tidak cocok dengan rute spesifik manapun di tabel, kirim ke sini saja." Ini biasanya mengarah ke gateway ISP — jalur keluar ke internet.
Kabar baiknya: kalau interface WAN di-set sebagai DHCP client (lihat section sebelumnya), default route biasanya otomatis muncul di routing table — ISP mengirimkannya bersamaan dengan IP lewat proses DHCP.
4 · KonsepKenapa LAN Butuh NAT untuk ke Internet
IP privat (192.168.x.x, 10.x.x.x, 172.16-31.x.x
— RFC 1918) sengaja dialokasikan untuk dipakai berulang-ulang
di jutaan jaringan lokal berbeda di seluruh dunia. Itu artinya IP ini
tidak unik secara global — router-router di internet publik
tidak tahu (dan tidak bisa tahu) harus mengirim balasan ke jaringan lokal
yang mana kalau paket dikirim langsung pakai IP privat sebagai alamat asal.
NAT (Network Address Translation) menerjemahkan banyak IP privat LAN jadi satu IP publik (milik interface WAN) saat trafik keluar ke internet — dan menerjemahkan balik saat balasannya kembali.
5 · KonsepSource NAT: Masquerade vs Static
Ada 2 cara implementasi source NAT di RouterOS:
1) Masquerade (paling umum)
Otomatis "ikut" berapa pun IP WAN interface saat itu. Cocok untuk WAN dengan IP dynamic dari ISP (mayoritas kasus kantor kecil/rumahan Indonesia) — kalau ISP ganti IP WAN, masquerade otomatis menyesuaikan tanpa perlu diedit manual.
2) Static Source NAT
Pakai IP tujuan (to-addresses) yang ditentukan manual dan tetap.
Cocok kalau WAN benar-benar punya IP publik statis (leased line,
biasanya berbayar lebih mahal). Kalau IP WAN sebenarnya dynamic tapi dipaksa
pakai static NAT, begitu ISP ganti IP, rule NAT jadi salah dan trafik LAN
berhenti keluar sampai rule diperbaiki manual.
6 · PraktikDemo Step-by-Step (CLI)
Asumsi: ether1 adalah port yang tersambung ke modem/ISP (di
kebanyakan board MikroTik seperti hAP, ether1 secara default berfungsi
sebagai WAN port). Interface bridge (LAN) sudah dikonfigurasi
dari Modul 01-02.
Cek interface yang akan jadi WAN
Pastikan ether1 sudah tersambung fisik ke modem/ISP
(flag R = running/link up) sebelum lanjut.
Set WAN jadi DHCP client
Status bound artinya router berhasil dapat IP dari ISP.
Kalau statusnya searching terus, cek koneksi fisik ke modem.
Cek routing table — default route
Baris dengan DST-ADDRESS 0.0.0.0/0 adalah default route —
biasanya muncul otomatis begitu DHCP client di langkah 2 berhasil bound.
Kalau tidak muncul, cek lagi status DHCP client-nya.
Buat NAT rule masquerade
chain=srcnat artinya rule ini berlaku untuk trafik yang
SUMBER-nya perlu diterjemahkan (keluar dari LAN). out-interface=ether1
membatasi rule ini cuma berlaku untuk trafik yang keluar lewat WAN.
Uji dari device LAN
Kalau dapat Reply (bukan Request timed out),
NAT & routing sudah jalan. Coba juga buka browser ke situs manapun
untuk konfirmasi tambahan.
Verifikasi NAT benar-benar dipakai (bukan cuma dibuat)
Counter BYTES/PACKETS yang bertambah setelah
ada trafik lewat adalah bukti pasti rule ini aktif dipakai — beda dengan
cuma asumsi "sudah dibuat pasti jalan" (rule bisa saja salah kondisi dan
tidak pernah kepakai walau tampil di list).
Backup & export konfigurasi gabungan
Konfigurasi ini sekarang gabungan Modul 01 (identitas+password) + Modul 02 (DHCP LAN) + Modul 03 (WAN+NAT) — backup mencakup semuanya sekaligus, bukan cuma bagian NAT.
7 · Lab TaskPraktik Wajib — Hardware Kantor Mitra atau CHR Mandiri
- Jalur Mandiri (CHR): lanjutkan CHR yang sama dari Modul 01-02. Modul ini butuh interface KEDUA untuk WAN — di VirtualBox, tambah satu network adapter lagi (Settings → Network → Adapter 2) dan set ke mode "Bridged", supaya CHR dapat IP langsung dari jaringan rumah/kampus kamu (persis seperti WAN dapat IP dari ISP). Adapter pertama (dari setup Modul 01) tetap dipakai untuk LAN/bridge, jangan diubah. Bukti kelulusan = screenshot tiap tahap, disimpan sendiri (tidak perlu verifikasi pembimbing).
- Jalur Formal (magang): pakai hardware MikroTik yang sama dari Modul 01-02 di kantor mitra, WAN tersambung ke modem ISP sungguhan. Hasil dicatat di template Laporan PKL Bagian 4, dan diverifikasi langsung oleh pembimbing.
📋 7 Lab Tasks — Modul 03
Command dan tahapannya identik di kedua jalur — beda cuma cara WAN tersambung ke "internet" (ISP asli vs jaringan rumah/kampus via CHR).
- Cek interface WAN yang akan dipakai (pastikan
link fisik/virtual sudah aktif). Screenshot hasil
/interface print. - Set WAN sebagai DHCP client. Screenshot
/ip dhcp-client printyang menunjukkan statusbounddan IP yang didapat. - Cek routing table, pastikan default route
(
0.0.0.0/0) muncul otomatis. Screenshot/ip route print. - Buat NAT rule masquerade untuk trafik LAN keluar
lewat WAN. Screenshot
/ip firewall nat print. - Uji dari device LAN: ping ke
8.8.8.8dari laptop/device di jaringan LAN kamu (bukan dari router). Screenshot hasil ping yang berhasil (reply, bukan timeout). - Verifikasi counter NAT naik setelah trafik lewat.
Screenshot
/ip firewall nat print stats— bandingkan sebelum & sesudah generate trafik (mis. ping beberapa kali). - Backup & export konfigurasi akhir gabungan
Modul 01-03. Sertakan
.backup+.rscdi folder laporan/bukti.
Selesai? Jalur Formal: tunjuk pembimbing
untuk verifikasi — pembimbing akan coba browsing/ping dari device LAN
secara langsung dan cek counter NAT bertambah. Kalau internet jalan &
counter naik, kamu lulus lab task ini. Jalur Mandiri: cek
sendiri — kalau semua 7 screenshot + file .rsc akhir sudah
lengkap dan konsisten dengan langkah di atas, lab task ini selesai.
Simpan buktinya untuk checklist di halaman progres.
8 · Self-AssessmentCek Pemahaman (5 Soal)
192.168.1.1). NAT menerjemahkannya jadi satu IP publik unik sebelum keluar. Bukan soal kecepatan (a) atau diblokir ISP (c) — ini memang keterbatasan desain sejak awal, bukan pembatasan yang sengaja dipasang./ip dhcp-client membuat interface itu MEMINTA IP (client) — kebalikan dari /ip dhcp-server (a, Modul 02) yang MEMBAGIKAN IP (server). Miskonsepsi umum: baru belajar dhcp-server di Modul 02, refleks pakai lagi untuk WAN — padahal arah datanya terbalik. LAN = router jadi server (bagi IP ke device), WAN = router jadi client (minta IP ke ISP).out-interface, atau disabled) tidak akan pernah kepakai walau tetap tampil di list — asumsi "sudah dibuat pasti jalan" (d) berisiko. Cara pasti tahu rule benar-benar aktif adalah lihat counter bertambah setelah ada trafik yang melewatinya, bukan tampilan visual (a) atau restart (c) yang tidak membuktikan apa-apa soal rule itu sendiri.9 · RangkumanKey Takeaways Modul 03
- WAN = DHCP client, LAN = DHCP server — dua arah yang berlawanan, jangan tertukar.
- Default route (
0.0.0.0/0) adalah jalur keluar ke internet — tanpa ini, LAN lokal jalan tapi internet mati total. - IP privat butuh NAT untuk bisa "keluar" ke internet — karena tidak unik secara global.
- Masquerade untuk WAN IP dynamic (mayoritas kasus), static NAT cuma untuk WAN IP publik tetap.
- Verifikasi NAT lewat counter (
packets/bytesbertambah), bukan cuma asumsi rule sudah dibuat. - Backup di akhir sekarang mencakup gabungan 3 modul (identitas+password, DHCP, NAT+routing) — bukan cuma bagian modul ini saja.
10 · GlossariumIstilah Penting di Modul Ini
- WAN
- Wide Area Network — interface/koneksi router ke ISP/internet, beda dari LAN (jaringan lokal).
- DHCP Client
- Mode di mana interface MEMINTA IP ke server lain (kebalikan dari DHCP server yang MEMBAGIKAN IP).
- Routing Table
- Daftar aturan ke mana paket data diteruskan berdasarkan tujuannya, dilihat via
/ip route print. - Default Route
- Route
0.0.0.0/0— jalur "kalau tidak tahu harus kemana, kirim ke sini", biasanya ke gateway ISP. - NAT
- Network Address Translation — menerjemahkan banyak IP privat jadi satu IP publik saat trafik keluar ke internet.
- Masquerade
- Jenis source NAT yang otomatis mengikuti IP WAN interface saat itu — cocok untuk WAN dengan IP dynamic.
- Static Source NAT
- Source NAT dengan IP tujuan (to-addresses) tetap/manual — cuma cocok kalau WAN punya IP publik statis.
- srcnat / dstnat
- Chain NAT: srcnat menerjemahkan alamat SUMBER (trafik keluar LAN), dstnat menerjemahkan alamat TUJUAN (trafik masuk, dibahas modul lanjutan).