📘 Modul 02 · MikroTik Fundamentals

DHCP Server — Pool IP & Reservation

40 menit 📝 6 lab tasks 🎯 Beginner 🛠 WinBox / SSH

🎯 Setelah Modul Ini Kamu Akan Bisa

  • Menjelaskan cara kerja DHCP (proses DORA) tanpa hafalan — paham logikanya
  • Setup DHCP server dari nol: address pool, DHCP network, binding ke interface
  • Membuat static reservation untuk device penting (printer, CCTV) supaya IP-nya tidak berubah-ubah
  • Memilih lease time yang masuk akal sesuai konteks (kantor vs WiFi tamu)
  • Membaca lease table untuk troubleshoot device yang tidak dapat IP
Prasyarat: Sudah menyelesaikan Modul 01 — Setup Awal Router (identitas, IP manajemen, password aman). Paham dasar subnetting (network address, broadcast address, berapa host muat di satu subnet). Hardware: 2 jalur setara — (a) mandiri: CHR di VirtualBox (panduan setup →), atau (b) magang formal: hardware MikroTik di kantor mitra. Modul ini murni konfigurasi software — tidak ada langkah fisik seperti reset button di Modul 01, jadi command-nya identik persis di kedua jalur.

1 · PengantarSkenario: Klinik Gigi Bertambah Device

Masih klinik gigi yang sama dari Modul 01. Sekarang router sudah aman (identitas jelas, IP manajemen rapi, password kuat) — tapi klinik ini punya 20 laptop staff, 15 device WiFi tamu (pasien nunggu), 1 printer jaringan, dan 2 CCTV. Semuanya butuh IP address supaya bisa konek ke jaringan.

💡 Kenapa tidak set IP manual satu-satu? Kalau 38 device di-set IP manual, tiap kali ada laptop baru staff harus manual assign IP — dan gampang bentrok (2 device kebagian IP yang sama). Tapi kalau semua serba DHCP otomatis TANPA pengecualian, IP printer dan CCTV bisa berubah-ubah tiap kali reconnect — printer sharing putus, CCTV NVR kehilangan koneksi ke kamera.

Solusinya: DHCP server untuk mayoritas device (otomatis, tidak perlu campur tangan manual), plus static reservation untuk device yang butuh IP tetap (printer, CCTV) — tapi tetap dikelola dari DHCP server, bukan di-set manual di tiap device.

2 · KonsepCara Kerja DHCP — Proses DORA

DHCP (Dynamic Host Configuration Protocol) adalah protokol yang membagikan IP address, subnet mask, gateway, dan DNS server secara otomatis ke device yang konek ke jaringan. Prosesnya disingkat DORA:

D — Discover

Device baru konek ke jaringan (misal laptop staff dinyalakan). Belum punya IP, jadi dia broadcast ke seluruh jaringan: "Ada DHCP server di sini? Saya butuh IP."

O — Offer

DHCP server (router MikroTik) dengar broadcast itu, lalu menawarkan satu IP dari address pool yang tersedia: "Pakai IP 192.168.10.15 ya."

R — Request

Device menerima tawaran itu dan secara resmi meminta IP tersebut ke server (langkah ini penting kalau ada lebih dari 1 DHCP server di jaringan — device cuma akan konfirmasi ke satu server).

A — Acknowledge

Server konfirmasi final: "OK, IP itu resmi milikmu selama sekian waktu (lease time)." Device sekarang bisa pakai IP itu untuk internet/jaringan lokal.

📝 Kenapa perlu tahu DORA? Saat troubleshoot "device tidak dapat IP", kamu perlu tahu di tahap mana proses ini macet — apakah broadcast-nya tidak sampai ke server (masalah jaringan/VLAN), atau server tidak punya IP tersisa di pool (pool habis)? Tanpa paham DORA, kamu cuma bisa nebak.

3 · KonsepAddress Pool & DHCP Network

Sebelum DHCP server bisa jalan, MikroTik butuh 2 hal:

1) Address Pool

Kumpulan/range IP yang boleh dibagikan ke client. Contoh: kalau subnet-nya 192.168.10.0/24, jangan bagikan SELURUH range .1 sampai .254 — sisakan beberapa IP awal untuk device statis (gateway, printer, CCTV, server). Pool yang wajar: 192.168.10.10 sampai 192.168.10.200 (menyisakan .2-.9 untuk statis, dan .201-.254 sebagai cadangan).

2) DHCP Network

Definisi "aturan main" untuk satu subnet: berapa gateway-nya (biasanya IP router itu sendiri), DNS server apa yang dikasih ke client, dan netmask/prefix-nya.

⚠ Common mistake: gateway HARUS berada di luar address pool (atau setidaknya tidak ikut dibagikan). Kalau gateway 192.168.10.1 ikut masuk range pool 192.168.10.1-192.168.10.200, suatu saat DHCP bisa membagikan IP gateway ke client biasa — dua device rebutan satu IP, jaringan kacau.

4 · KonsepLease Time — Berapa Lama IP Dipinjamkan?

Lease time adalah durasi sebuah IP "dipinjamkan" ke device sebelum device itu harus renew (minta konfirmasi ulang) ke DHCP server. Ini bukan angka sembarangan — pilihannya tergantung konteks:

  • Lease pendek (mis. 1 jam - 4 jam): cocok untuk WiFi tamu/publik dengan turnover tinggi (kafe, ruang tunggu klinik) — IP yang sudah tidak dipakai (device pergi) cepat "dibersihkan" dan bisa dipakai device lain. Konsekuensi: lebih banyak trafik renewal request.
  • Lease panjang (mis. 1 hari - 1 minggu): cocok untuk jaringan kantor dengan device yang relatif tetap (laptop staff) — mengurangi overhead renewal, device jarang perlu minta ulang.

Default RouterOS biasanya 10m (10 menit) untuk network baru — ini terlalu pendek untuk kebanyakan kasus produksi, hampir selalu perlu diubah.

5 · KonsepStatic Reservation (IP Binding)

Untuk device yang butuh IP selalu sama (printer jaringan, CCTV/NVR, server internal) — ada 2 cara:

  1. Static manual di device: masuk ke setting printer/CCTV, matikan DHCP client di situ, isi IP manual. Kelemahan: tersebar di banyak tempat, susah diaudit, gampang lupa dokumentasi kalau ganti device.
  2. Static reservation di DHCP server (direkomendasikan): device tetap pakai DHCP client (default), tapi DHCP server "mengingat" MAC address device itu dan SELALU kasih IP yang sama tiap kali device itu minta IP. Semua tercatat di satu tempat: DHCP server.
💡 Kenapa reservation lebih baik dari static manual? Kalau printer diganti unit baru, kamu tinggal update MAC address di satu baris reservation — device baru otomatis dapat IP yang sama seperti device lama. Tidak perlu masuk ke setting network printer secara manual.

6 · PraktikDemo Step-by-Step (CLI)

Asumsi: interface LAN kamu bernama bridge dengan IP 192.168.10.1/24 (hasil setup Modul 01, disesuaikan subnetnya).

1

Buat address pool

> /ip pool add name=dhcp_pool_lan ranges=192.168.10.10-192.168.10.200 # Verifikasi: > /ip pool print # NAME RANGES 0 dhcp_pool_lan 192.168.10.10-192.168.10.200

Range ini menyisakan .2-.9 untuk device statis (gateway sudah .1, sisa untuk printer/CCTV nanti).

2

Buat DHCP network (gateway, DNS, netmask)

> /ip dhcp-server network add address=192.168.10.0/24 gateway=192.168.10.1 dns-server=192.168.10.1,8.8.8.8

DNS server bisa diarahkan ke router sendiri (kalau router jalankan DNS cache) dan/atau ke DNS publik sebagai fallback.

3

Buat DHCP server, bind ke interface + pool

> /ip dhcp-server add name=dhcp_lan interface=bridge address-pool=dhcp_pool_lan lease-time=12h disabled=no # Verifikasi: > /ip dhcp-server print # NAME INTERFACE ADDRESS-POOL LEASE-TIME 0 dhcp_lan bridge dhcp_pool_lan 12h
⚠ Jangan lupa disabled=no — DHCP server yang lupa di-enable tidak akan membagikan IP sama sekali, gejalanya mirip "network mati" padahal cuma lupa satu flag.
4

Uji: sambungkan device test, cek lease table

# Dari device test (laptop/VM), konek ke jaringan lalu cek IP yang didapat. # Di router, verifikasi lease-nya: > /ip dhcp-server lease print # ADDRESS MAC-ADDRESS STATUS 0 192.168.10.10 A4:5E:60:XX:XX:XX bound

Status bound artinya proses DORA berhasil sampai tahap Acknowledge. Kalau device test tidak muncul di sini, masalahnya ada di tahap Discover/Offer (cek koneksi fisik, VLAN, atau interface binding).

5

Static reservation untuk printer

# Cari dulu MAC address printer (biasanya tertera di label unit atau menu jaringan printer) > /ip dhcp-server lease add address=192.168.10.5 mac-address=B8:27:EB:XX:XX:XX server=dhcp_lan comment="Printer Lantai 1"

Sekarang printer itu akan SELALU dapat 192.168.10.5 — walau tetap lewat proses DHCP normal (bukan static config manual di printer-nya).

6

Static reservation untuk CCTV, verifikasi akhir

> /ip dhcp-server lease add address=192.168.10.6 mac-address=EC:71:DB:XX:XX:XX server=dhcp_lan comment="CCTV Depan" # Verifikasi semua lease (dynamic + static): > /ip dhcp-server lease print # ADDRESS MAC-ADDRESS STATUS COMMENT 0 192.168.10.10 A4:5E:60:XX:XX:XX bound 1 S 192.168.10.5 B8:27:EB:XX:XX:XX bound Printer Lantai 1 2 S 192.168.10.6 EC:71:DB:XX:XX:XX bound CCTV Depan

Huruf S di kolom flag menandakan lease itu static (reservation), beda dengan lease dinamis biasa.

7

Ubah lease-time pada DHCP server yang sudah ada

> /ip dhcp-server set dhcp_lan lease-time=1d # Verifikasi: > /ip dhcp-server print # NAME INTERFACE ADDRESS-POOL LEASE-TIME 0 dhcp_lan bridge dhcp_pool_lan 1d

/ip dhcp-server set mengubah konfigurasi DHCP server yang SUDAH ADA — beda dari /ip dhcp-server add di langkah 3 yang membuat baru. Pola set ini sama seperti yang kamu pakai di Modul 01 (/system identity set, /ip service set). Lease dinamis yang sedang aktif tidak langsung berubah — durasi baru berlaku untuk lease berikutnya.

7 · Lab TaskPraktik Wajib — Hardware Kantor Mitra atau CHR Mandiri

🧭 Pilih jalurmu — keduanya setara dan sah:
  • Jalur Mandiri (CHR): lanjutkan CHR yang sama dari Modul 01. Bukti kelulusan = screenshot tiap tahap + file .rsc akhir, disimpan sendiri (tidak perlu verifikasi pembimbing).
  • Jalur Formal (magang): pakai hardware MikroTik yang sama dari Modul 01 di kantor mitra. Hasil dicatat di template Laporan PKL Bagian 4, dan diverifikasi langsung oleh pembimbing.

📋 6 Lab Tasks — Modul 02

Command dan tahapannya identik di kedua jalur — modul ini murni konfigurasi software, tidak ada langkah fisik seperti Modul 01.

  1. Buat address pool baru untuk subnet lab kamu (pakai subnet dari Modul 01, mis. 10.99.99.0/24) — sisakan beberapa IP awal untuk device statis. Screenshot /ip pool print.
  2. Buat DHCP network (gateway, dns-server, netmask) untuk subnet itu. Screenshot hasil /ip dhcp-server network print.
  3. Buat DHCP server, bind ke interface LAN + pool yang sudah dibuat, pastikan disabled=no. Screenshot /ip dhcp-server print.
  4. Uji dapat IP: sambungkan 1 device test (laptop/VM kedua/HP) ke jaringan, verifikasi device itu dapat IP dari pool via /ip dhcp-server lease print. Screenshot lease table-nya.
  5. Buat static reservation untuk 1 device "printer simulasi" (bisa device test yang sama, catat MAC-nya, assign IP tetap di luar range pool utama, mis. .5). Screenshot hasil /ip dhcp-server lease print yang menunjukkan baris reservation itu (flag S).
  6. Ubah lease-time dari default ke nilai yang kamu pilih (jelaskan alasannya di catatan: kenapa pilih durasi itu untuk skenario klinik gigi). Screenshot /ip dhcp-server print final + /ip dhcp-server lease print yang menunjukkan device dinamis DAN device reservation sekaligus.

Selesai? Jalur Formal: tunjuk pembimbing untuk verifikasi — pembimbing akan cek langsung: device test dapat IP dari pool yang benar, dan device reservation dapat IP statis sesuai rencana (bukan IP random dari pool). Kalau keduanya sesuai, kamu lulus lab task ini. Jalur Mandiri: cek sendiri — kalau semua 6 screenshot + file .rsc akhir sudah lengkap dan konsisten dengan langkah di atas, lab task ini selesai. Simpan buktinya untuk checklist di halaman progres.

8 · Self-AssessmentCek Pemahaman (5 Soal)

1. Urutan proses DHCP yang benar (DORA) adalah:
2. Kenapa gateway sebaiknya berada di LUAR address pool DHCP?
3. Keuntungan utama static RESERVATION dibanding static config manual di device:
4. Untuk WiFi tamu di ruang tunggu klinik dengan turnover pengunjung tinggi, lease time yang MASUK AKAL adalah:
5. Device baru tidak dapat IP sama sekali (dapat 169.254.x.x / APIPA). Hal PERTAMA yang paling masuk akal dicek adalah:

9 · RangkumanKey Takeaways Modul 02

  1. DORA (Discover-Offer-Request-Acknowledge) adalah alur DHCP — paham ini kunci troubleshoot device yang tidak dapat IP.
  2. Address pool jangan mencakup seluruh subnet — sisakan IP untuk device statis (gateway, printer, CCTV).
  3. Gateway di luar pool — mencegah IP gateway ikut dibagikan ke client biasa.
  4. Lease time dipilih sesuai konteks: pendek untuk turnover tinggi (WiFi tamu), panjang untuk device stabil (kantor).
  5. Static reservation lebih baik dari static manual di device — semua tercatat terpusat di DHCP server, gampang diaudit & diganti.
  6. Lease table (/ip dhcp-server lease print) adalah tempat pertama dicek saat troubleshoot masalah DHCP.

📘 Modul Berikutnya

Modul 03 — NAT & Routing: Internet Sharing untuk LAN

Setelah device di LAN otomatis dapat IP dari DHCP, langkah selanjutnya adalah bikin device-device itu bisa akses internet lewat satu koneksi WAN — pakai source NAT (masquerade) dan routing dasar.

← Kembali ke daftar 6 modul

10 · GlossariumIstilah Penting di Modul Ini

DHCP
Dynamic Host Configuration Protocol — protokol pembagian IP otomatis ke device di jaringan.
DORA
Discover-Offer-Request-Acknowledge — 4 tahap proses DHCP dari device minta IP sampai resmi dapat.
Address Pool
Kumpulan/range IP yang boleh dibagikan DHCP server ke client, biasanya sebagian dari subnet (bukan seluruhnya).
Lease Time
Durasi sebuah IP "dipinjamkan" ke device sebelum harus renew ke DHCP server.
Static Reservation
Binding MAC address ke IP tertentu di DHCP server, supaya device itu selalu dapat IP yang sama tanpa config manual di device-nya.
APIPA
Automatic Private IP Addressing (169.254.x.x) — IP default yang diberikan OS saat gagal dapat IP dari DHCP server mana pun.
Gateway
IP yang jadi "pintu keluar" jaringan lokal, biasanya IP router itu sendiri.
Lease Table
Daftar semua IP yang sedang/pernah dipinjamkan DHCP server, dilihat via /ip dhcp-server lease print.