// IP ADDRESS ANDA SAAT INI
Mengambil informasi koneksi…
Buka DNS Lookup — Verifikasi Resolve →

Kamu baru ganti DNS server di MikroTik dari DNS ISP ke 8.8.8.8, tapi beberapa domain masih resolve ke IP lama. Atau setelah incident IP publik kena blacklist sudah selesai, koneksi ke beberapa situs masih bermasalah padahal semestinya normal. Solusinya sederhana: flush DNS cache di MikroTik. Artikel ini memberikan perintah yang bisa langsung dijalankan — via terminal, Winbox, API, atau scheduler — beserta perbandingannya dengan DNS cache Windows dan troubleshooting kalau flush ternyata tidak menyelesaikan masalah.

Clear DNS Cache MikroTik — Perintah Lengkap
Ilustrasi: Clear DNS Cache MikroTik — Perintah Lengkap
Perintah cepat (untuk yang butuh sekarang):
/ip dns cache flush
Selesai. DNS cache langsung bersih, tidak perlu restart router.

Apa Itu DNS Cache di MikroTik

MikroTik (RouterOS) menyimpan hasil DNS query di memori lokal untuk mempercepat resolusi domain berikutnya. Saat komputer di jaringan kantor bertanya "IP-nya google.com berapa?" untuk pertama kali, MikroTik forward ke upstream DNS (mis. 8.8.8.8), terima jawaban, lalu menyimpannya di cache. Pertanyaan kedua dari komputer manapun tidak perlu lagi pergi ke upstream — langsung dijawab dari cache, latency turun drastis (~30ms → ~0ms).

Yang jadi masalah: cache punya umur (TTL) dan sering bertahan lebih lama dari yang dibutuhkan. Kalau DNS upstream-nya berubah, atau IP target migrasi, atau IP publik kantor diganti karena masuk blacklist — cache yang masih menyimpan jawaban lama akan menyesatkan client. Saat itulah flush diperlukan: paksa cache dibersihkan agar query berikutnya benar-benar fresh dari upstream.

Kapan DNS Cache Perlu Di-flush

Semua Cara Flush DNS Cache di MikroTik

Cara 1 — Via Terminal (Winbox atau SSH)

KODE
/ip dns cache flush

Cara paling umum dan paling cepat. Bisa dijalankan dari terminal di dalam Winbox (New Terminal), SSH ke MikroTik (ssh [email protected]), atau console port langsung. Tidak ada output yang ditampilkan jika berhasil — prompt langsung kembali. Itu normal, bukan error.

Cara 2 — Via Winbox GUI

Cara 3 — Via API (untuk Scripting)

KODE
/ip/dns/cache/flush

Berguna kalau kamu mengotomasi maintenance via script Python (rosapi/librouteros) atau aplikasi manajemen jaringan terpusat. Slash di antara command segment penting untuk endpoint API style.

Cara 4 — Scheduler (Flush Otomatis Berkala)

Kalau DNS sering stale (misal upstream-nya unstable atau ada banyak perubahan record di domain internal), atur scheduler agar flush jalan otomatis tiap malam:

KODE
/system scheduler add name="dns-flush-daily" \
    start-time=00:00:00 \
    interval=1d \
    on-event="/ip dns cache flush"
Jangan set interval terlalu pendek (mis. tiap 5 menit). Cache yang terlalu sering dibersihkan justru bikin upstream DNS load tinggi dan resolusi domain pertama selalu lambat. Daily atau hourly sudah cukup untuk mayoritas kasus.

Cek Isi Cache Sebelum Flush

Sebelum flush, kamu bisa lihat dulu apa saja yang sudah di-cache. Berguna untuk verifikasi: apakah domain yang bermasalah memang ada di cache dengan IP salah, atau memang belum pernah di-resolve.

KODE
/ip dns cache print

Output contoh nyata di MikroTik produksi (kantor ~80 user):

KODE
Flags: S - static
 #   NAME                            ADDRESS          TTL
 0   google.com                      142.250.185.46   4m55s
 1   www.google.com                  142.250.185.68   4m32s
 2   cloudflare.com                  104.16.132.229   14m02s
 3   api.telegram.org                149.154.167.51   1m12s
 4   web.telegram.org                149.154.167.99   2m45s
 5   mail.google.com                 142.251.10.17    3m21s
 6   github.com                      140.82.121.4     8m10s
 7   raw.githubusercontent.com       185.199.108.133  6m38s
 8   ifconfig.me                     34.117.59.81     11m27s
 9   api.ipify.org                   23.21.199.17     9m04s
10   cekipsaya.com                   188.114.97.4     12m18s
11   pajak.go.id                     180.250.250.250  7m02s
12   dapodik.kemdikbud.go.id         103.194.42.220   3m48s
13 S internal.kantor                 192.168.10.50      —
14 S nas-storage                     192.168.10.20      —

Yang bisa kamu baca dari output ini:

Perbedaan DNS Cache MikroTik vs Windows

Salah satu sumber kebingungan saat troubleshoot DNS: flush di mana. User melapor "domain tidak bisa dibuka", admin sudah flush cache MikroTik, tapi user tetap kena masalah. Penyebabnya: setiap perangkat punya cache DNS sendiri yang independen. Ini perbandingannya:

Aspek DNS Cache MikroTik DNS Cache Windows
Lokasi cache RouterOS memory (router) OS memory (komputer user)
Scope Semua client di jaringan ✅ Hanya komputer itu sendiri
Perintah flush /ip dns cache flush ipconfig /flushdns
Akses untuk flush Admin router (Winbox/SSH) User lokal (cmd Run as Admin)
Static entry override /ip dns static C:\Windows\System32\drivers\etc\hosts
Default cache size 2048 KiB ~10.000 entries (registry)

Implikasi praktis: kalau ada 1 user lapor masalah DNS sementara user lain di kantor yang sama tidak terdampak — kemungkinan besar masalahnya di cache komputer user tersebut, bukan di MikroTik. Sebaliknya, kalau seluruh kantor terdampak bersamaan, flush di MikroTik adalah langkah pertama. Untuk kasus aman, flush keduanya: MikroTik dulu, lalu minta user flush komputernya.

OS Client Perintah Flush DNS Cache
Windows ipconfig /flushdns (cmd as Admin)
macOS sudo dscacheutil -flushcache; sudo killall -HUP mDNSResponder
Linux (systemd) sudo systemd-resolve --flush-caches
Linux (nscd) sudo systemctl restart nscd
Browser (Chrome) Buka chrome://net-internals/#dns → Clear host cache

Verifikasi Setelah Flush

Setelah flush, cek apakah domain yang sebelumnya bermasalah sekarang resolve dengan benar. Lakukan tiga langkah verifikasi berurutan:

DNS Sudah Di-flush Tapi Masalah Masih Ada — 5 Penyebab Lain

Kalau setelah flush MikroTik masalah belum selesai, jangan terus-menerus flush — itu tidak akan menambah efek. Cek 5 kemungkinan penyebab lain berikut, urut dari yang paling sering ditemui:

1. DNS Cache di Komputer User Belum Di-flush

Penyebab #1 paling sering. MikroTik cache tidak men-cover cache di OS komputer user. Setelah flush MikroTik, minta user jalankan ipconfig /flushdns (Windows) atau equivalent di OS-nya, lalu coba lagi. Tambahan: browser modern (Chrome/Edge/Firefox) juga punya cache DNS internal terpisah dari OS — flush di chrome://net-internals/#dns kalau perlu.

2. Static DNS Entry Override

Kalau ada entry di /ip dns static dengan hostname yang sama, entry static selalu menang dan tidak terhapus oleh cache flush. Cek dengan:

KODE
/ip dns static print

Kalau ada entry usang yang tidak relevan lagi, hapus dengan /ip dns static remove [number]. Jangan lupa cek juga file hosts di komputer user (path: C:\Windows\System32\drivers\etc\hosts Windows, atau /etc/hosts Linux/macOS) — sering ada entry sisa dari developer atau IT lama.

3. Upstream DNS Server-nya yang Bermasalah

Kalau upstream DNS yang dikonfigurasi di MikroTik (/ip dns print) sedang return jawaban salah atau timeout, flush sebanyak apapun tidak akan membantu — cache cuma dibersihkan, tapi query baru akan tetap dapat jawaban yang sama salahnya. Test dengan resolve via DNS server berbeda:

KODE
/tool dns-lookup google.com server=8.8.8.8
/tool dns-lookup google.com server=1.1.1.1
/tool dns-lookup google.com server=9.9.9.9

Bandingkan hasilnya. Kalau salah satu DNS server kembalikan jawaban beda, ganti upstream MikroTik ke yang sehat: /ip dns set servers=1.1.1.1,8.8.8.8.

4. IP Publik Kena Blacklist atau Filtering

DNS resolve OK, tapi koneksi setelah resolve tetap timeout? Bukan masalah DNS — masalahnya di firewall/blacklist. Resolve google.com berhasil mengembalikan IP 142.250.185.46, tapi ping ke IP itu timeout. Berarti IP publik kantor kemungkinan masuk blacklist atau ada filtering di hop tertentu. Cek dengan Blacklist Checker sebelum lanjut investigasi.

5. Bukan Masalah DNS Sama Sekali — Cek ARP Table

Gejala "domain tidak bisa dibuka" kadang sebenarnya gejala layer 2: ARP table switch penuh. Tanda khasnya: ping ke IP lokal (gateway, NAS) juga timeout, restart switch langsung memperbaiki. Kalau sudah flush DNS dan masalah masih ada, lompat ke checklist diagnosa jaringan untuk approach systematic.

Tweak Cache Size & Max TTL (Opsional)

Default MikroTik: cache-size=2048KiB, cache-max-ttl=1w. Untuk jaringan kantor besar (>200 user atau banyak subdomain berbeda), pertimbangkan menaikkan size:

KODE
/ip dns set cache-size=4096KiB
/ip dns set cache-max-ttl=1h

cache-size diperbesar = lebih banyak entry tertampung, hit rate naik. cache-max-ttl diturunkan dari 1 minggu jadi 1 jam = entry tidak menumpuk lama, perubahan DNS upstream lebih cepat terlihat (trade-off: load upstream sedikit naik). Cek penggunaan sekarang dengan /ip dns print baris cache-used.

FAQ — Pertanyaan yang Sering Ditanyakan

Tidak. Flush hanya menghapus cache untuk query baru. Koneksi TCP yang sedang aktif (SSH, HTTPS, RDP) tidak terpengaruh — mereka pakai IP yang sudah resolve sebelumnya dan tidak query DNS lagi sampai koneksi putus.
Tidak perlu. <code>/ip dns cache flush</code> langsung efektif tanpa restart. Restart router malah lebih lama dan memutus semua koneksi user — over-kill untuk masalah cache DNS.
Sangat cepat. Setiap DNS query oleh user di jaringan otomatis mengisi cache kembali. Di kantor 50+ user, dalam hitungan menit cache sudah terisi dengan entries domain yang aktif diakses (Google, Cloudflare, Telegram, dll).
Tidak ada risiko stabilitas. Satu-satunya efek samping: DNS query pertama setelah flush akan sedikit lebih lambat (~30ms tambahan) karena harus resolve ulang dari upstream. Ini hanya sekali per domain dan tidak terasa oleh end user.
MikroTik tidak mendukung selective flush per domain. Opsinya: flush semua sekaligus, atau tunggu TTL domain tersebut habis sendiri (lihat kolom TTL di <code>/ip dns cache print</code>). Untuk Windows ada workaround via <code>ipconfig /displaydns | findstr [domain]</code> tapi flush selective tetap tidak ada — flush /flushdns sapu semua.
Tidak. Itu pertanyaan paling sering bikin bingung admin. Setiap perangkat punya DNS cache lokal sendiri yang independen. Flush MikroTik = bersih di router, tidak menyentuh OS user. Kalau seluruh kantor masih bermasalah setelah flush MikroTik, koordinasikan flush juga di komputer user (Windows: <code>ipconfig /flushdns</code>).

Kesimpulan

Flush DNS cache MikroTik adalah operasi satu baris — /ip dns cache flush — dan selesai dalam hitungan detik tanpa restart. Jadikan ini langkah standar dalam checklist troubleshooting jaringan kantor: setelah ganti DNS server, setelah ganti IP publik, setelah update dns static, atau setiap kali ada laporan domain tidak bisa diakses padahal seharusnya normal. Tapi ingat: flush di router cuma membersihkan cache di MikroTik. Kalau masalah masih ada, cek juga DNS cache di komputer user (Windows ipconfig /flushdns), pastikan tidak ada static entry yang override, dan verifikasi IP publik tidak masuk blacklist. DNS cache cuma satu mata rantai — kalau diagnosa lebih luas, lanjut ke checklist diagnosa jaringan kantor.

COBA SEKARANG
Buka DNS Lookup — Verifikasi Resolve
→ Buka DNS Lookup — Verifikasi Resolve
// ARTIKEL INI MEMBANTU?

Share ke teman yang butuh info ini: